Sabtu, 07 Februari 2009

Kesenian dan Budaya

Kesenian Tradisional 

Desa Candirejo juga memiliki sejarah sebagai tempat persinggahan pengikut pangeran Diponegoro (salah satu pahlawan perjuangan Indonesia) ketika berperang dengan tentara Belanda sekitar tahun 1825. Sebagai peninggalan budaya, momen itu tercurah dalam satu arian yang dikenal dengan nama Jathilan, yang menggambarkan latihan perang pasukan berkuda pangeran Diponegoro. Kesenian ini berkembang sejak tahun 1920-an dan memiliki beberapa versi.



Musik pengiring dari kesenian ini adalah karawitan. Jenis kesenian lainnya adalah kesenian wayang. Kesenian ini muncul ketika pengaruh agama Budha memasuki pulau Jawa. Wayang digunakan untuk menyebarluaskan ajaran agama Budha dan pihak kerajaan menggunakannya menjadi media penyampai pesan. Sampai saat ini kesenian wayang berkembang menjadi media pembelajaran masyarakat tentang nilai dan norma yang harus dimiliki manusia. Ada beberapa jenis wayang dalam kebudayaan Jawa, yakni wayang orang, wayang kulit dan wayang golek. Pementasan wayang kulit kerap dilakukan bila ada upacara adat atau saat hajatan desa. Keunikan wayang kulit adalah ia terbuat dari kulit kambing yang telah disamak dan dikeringkan, kemudian diukir sesuai dengan karakter peran dan alur cerita dalam kitab pewayangan. Setelah pengaruh budaya agama Budha, maka terjadi peralihan ke budaya yang dibawa oleh agama Islam. Pengaruh ini tampak dalam jenis kesenian yang kemudian muncul di desa ini, seperti tarian Gatholoco/Wulangsunu, Kubrosiswo dan Shalawatan dengan isi syairnya berupa tuntunan hidup bagi umat manusia.

Tarian Gatholoco/Wulangsunu dipentaskan secara berpasangan dalam baris berbanjar dan
berjumlah genap. Dinamakan kesenian Wulangsunu karena dalam syair-syairnya ada bab
wulangsunu. Wulangsunu berasal dari kata wulang yang artinya mendidik, memberi nasihat 
dan sunu yang berarti anak. Kesenian ini berfungsi ganda sebagai sarana hiburan dan sebagai tuntunan.

Kesenian lain adalah Kubrosiswo, yang termasuk salah satu jenis kesenian Magelang. Kesenian ini ada sejak tahun 1965 di desa Candirejo. Ini adalah satu jenis kesenian yang bernafaskan Islam. Musik pengiring mirip dengan lagu perjuangan dan qasidah, tetapi liriknya telah diubah sesuai misi Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar